Ramadhan tanpa Warna

Ketika pemerintah menetapkan tanggal 26 Mei sebagai hari pertama bulan Ramadhan di tahun ini, saya sadar bahwa ini adalah tahun ke dua puluh tiga saya menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Hanya saja mungkin saya baru mulai benar-benar puasa sekitar usia 9 atau 10 tahun. Setiap tahunnya saya jalani ibadah puasa dengan momen yang berbeda-beda. Biasanya, saya bisa menjalani bulan Ramadhan di rumah karena bertepatan dengan libur kuliah. Tapi sekarang saya akan menghabiskan banyak di kantor untuk bekerja.

Dulu sekali, ketika saya masih duduk di sekolah dasar, warga komplek saya biasa menjalankan solat tarawih di kantor pemasaran komplek yang sudah tidak berfungsi lagi. Saat itu masjid terdekat terletak lumayan jauh. Maka dari itu warga komplek memutusakn untuk mendirikan solat tarwih di sana. Bangunannya tidak besar. Hanya cukup untuk beberapa orang saja. Kami biasa menggelar tikar dan membawa sajadah masing-masing dari rumah. Dan setelah selesai, setiap orang yang pulang dibekali dengan kue yang dibuat oleh ibu-ibu komplek.

Barulah beberapa tahun setelahnya warga komplek, yang umumnya terdiri dari bapak-bapak, memutuskan untuk mendirikan masjid. Salah satu dari pendiri masjid itu adalah Bapak Hj Warnaedi, yang kemudian menjadi ketua DKM masjid komplek.

Bapak Warnaedi, atau yang lebih akrab disapa dengan Pak Warna, adalah salah satu orang yang tinggal di komplek saya cukup awal. Beliau adalah pensiunan tentara. Badannya tambun. Suaranya berat namun dengan nada yang khas. Beliau juga memiliki senyum yang cukup manis untuk seorang bapak-bapak.

Sebenarnya saya tidak begitu mengenal dekat beliau. Yang saya tahu hanyalah dia seorang pensiuan tentara, memiliki 2 anak (kalau tidak salah), dan sudah memiliki cucu. Di komplek pun kami jarang bertemu. Mungkin karena saya pun jarang di rumah. Tapi beliau selalu bisa ditemukan di masjid ketika waktu solat fardu, hal yang membuat saya salut pada beliau.

Saya sering melihatnya pergi menuju masjid dengan motor Astrea jadul kepunyaannya. Bunyi motornya khas. Ketika saya di dalam rumah pun saya bisa tahu bahwa itu adalah motor beliau. Terkadang dia berangkat sendiri, terkadang dia pergi bersama cucunya. Tapi ia juga suka berjalan kaki menuju masjid, walau seringnya menggunakan motor.

Di masjid, terkadang beliau mengajak saya mengobrol. Perbincangan sederhana. Beliau menanyakan bagaimana keadaan ayah saya, pekerjaan ayah saya, kuliah saya, cita-cita saya, dan beragam topik sederhana lainnya. Beliau juga sering mebgajak saya bercanda. “Kalau saya punya anak perempuan, saya bakal kawinin sama kamu”, begitu katanya. Saya hanya tertawa saja, dan bpeliau pun tersenyum. Dari cara bicaranya saya menemukan suatu afeksi seorang yang bijak. Cara bicara yang kenyang akan pengalaman. Mungkin memang benar. Atau memang begitu ciri khas seorang bapak-bapak. Terakhir saya mengobrol dengan beliau sekitar tanggal 10 Mei kalau saya tidak salah. Beliau menanyakan mengapa saya jarang ke masjid, dengan senyumnya yang khas. Saya jawab karena saya bekerja, jarang di rumah.

Sebenarnya ada hal yang kurang saya sukai dari beliau. Ketika solat berjamaah, entah beliau sadar atau tidak, saya sering mendapati bau tidak sedap keluar dari mulutnya. Dan juga beliau suka bersendawa. Sampai-sampai saya harus menahan napas ketika solat di sampingnya. Namun terlepas dari itu, beliau adalah orang yang saya hormati, baik dari segi perilaku maupun ibadahnya.

Semua hal itu saya anggap biasa saja, normal, hubungan antar tetangga. Sampai ketika satu hari sebelum Ramadhan tiba, saya mendapat pesan singkat dari ayah saya bahwa Pak Warna telah meninggal dunia. Saya sedang di tempat kejra saat itu. Saya mendadak terdiam, meneliti pesan singkat yang ayah saya kirimkan, seolah ada kesalahan pengetikan atau pengiriman. Tapi tidak. Pak Warna sudah berpulang, meninggal akibat penyakit jantung. Saya hanya termenung sesaat, memberitahukan berita duka tersebut kepada rekan-rekan saya, berkeluh kesah, lalu kembali bekerja. Mendadak pikiran saya mencari-cari memori tentang beliau. Mencoba mengenang beliau dari kenangan yang tak banyak.

Memang saya tidak begitu mengenal dekat Pak Warna. Tapi kini tidak ada lagi bunyi motor Astrea jadulnya, tidak akan saya temukan lagi beliau di masjid setiap waktu solat, tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan basa-basinya, tidak ada lagi senyum dan bau mulut sendawanya, tidak ada lagi sambutan beliau sebelum solat idul fitri dimulai, tidak ada lagi beliau. Perjalanan Pak Warna di dunia sudah selesai. Dan kenyataan itu membuat dada saya berat. Saya sedih.

Kini, di tahun ke dua puluh tiga saya menjalani puasa Ramadhan, saya semakin menyadari bahwa tahun-tahun berikutnya masih merupakan sebuah jalan yang tertutup kabut tebal yang tak terlihat ujungnya. Saya tidak tahu apakah saya masih bisa bertemu dengan Ramadhan di tahun berikutnya, bersama dengan orang-orang yang saya kenal dan kasihi. Entahlah. Semua itu masih merupakan teka-teki.

Cita-cita

Waktu SD, ketika saya ditanya soal cita-cita, saya diam. Di antara kawan-kawan saya yang dengan semangat menjawab cita-cita mereka, saya berpikir setengah mati untuk menjawab pertanyaan guru saya. Si A ingin jadi dokter hewan. Si B ingin jadi pilot, dan si C ingin jadi polisi. Cita-cita yang lumrah pada zamannya. Dan saat tiba giliran saya, saya hanya bisa diam.

Aneh kiranya kalau seorang anak SD tidak mempunyai cita-cita yang konservatif. Saya bilang konservatif karena memang cita-cita anak-anak pada zaman itu sudah seperti tradisi. Saya bukannya tidak suka dengan mereka yang bercita-cita seperti itu, tapi justru saya heran dengan diri saya sendiri. Kenapa bisa saya tidak memiliki impian waktu itu.

Di lain kesempatan, saya diberi pertanyaan yang sama. Kali ini saya menjawab. Saya sejak kecil senang membaca komik. Karena itu saya senang menggambar. Dan karena senang menggambar (meski kualitasnya di bawah rata-rata), saya menjawab ingin menjadi seorang komikus.

Komik One Piece sedang digandrungi waktu itu. Jadi para penggemar komik kala itu membuat tiruannya seperti: Two Piece dan Three Piece. Dan saya kebagian membuat komik Four Piece. Ceritanya hanya meniru-niru saja dari yang sudah ada. Tidak ada yang spesial. Dari segi gambar pun hanya menjiplak karya Oda Sensei. Tapi hal seperti itu yang membuat saya ingin menjadi seorang komikus. Apakah saya menjadi komikus sekarang? Tentu tidak. Impian itu kandas karena saya tidak punya seni visual yang baik dan saya minder melihat gambaran teman-teman saya. Maka saya berpisah dengan cita-cita saya hingga akhirnya saya bertemu dengan gitar dan belajar bermain gitar.

Di SMP, saya lebih sadar akan adanya cita-cita. Saya memutuskan ingin menjadi seorang musisi. Sebenarnya sejak akhir SD sudah muncul pikiran untuk menjadi seorang musisi. Tapi mungkin ide itu belum muncul benar. Saya mengikuti berbagai kegiatan msuik di SMP, seperti angklung dan saya juga membentuk sebuah band. Di ekstra kulikuler angklung, saya berperan sebagai pemain bass betot (contra bass), sedangkan di band saya bermain gitar. Bersama tim angklung, saya mengikuti dan sempat memenangkan beberapa lomba. Bersama band saya pernah bermain di acara perpisahan. Lingkungan seperti itu membantu impian saya tetap membara. Saat kelas 3 SMP, cita-cita saya berubah lagi. Kali ini saya ingin menjadi dosen matematika. Pelajaran berhitung itu terasa amat menyenangkan bagi saya. Pemecahan soal yang rumit menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Dan ketika saya berhasil menyelesaikannya, rasanya seperti terbang ke langit ke tujuh. Namun lagi-lagi cinta itu kandas.

Saat SMA, semua itu berubah. Matematika tidak lagi semenynenangkan dulu. Rumit. Terlalu banyak rumus yang harus dimengerti. Otak saya tidak kuat. Saya beralih lagi ke cita-cita untuk menjadi seorang musisi. Impian itu berlanjut hingga sekarang.

Untuk memuluskan jalan saya, saya memilih untuk masuk Universitas Pendidikan Indonesia jurusan seni musik. Dan nyatanya pilihan saya tidak direstui oleh Tuhan. Akhirnya saya memilih masuk jurusan Bahasa dan Sastra Inggris. Entah kenapa saya memilih jurusan itu. Saya hanya memikirkan jurusan yang ada kaitannya dengan musik, yaitu bahasa. Dengan catatan saya masih ingin menjadi seorang musisi. Dan syukur, hal itu masih terus saya coba realisasikan.

Menjelang semester akhir, saya menambah jumlah cita-cita saya: menjadi seorang penulis. Padahal bila dipikir lagi, kemampuan saya berbahasa tidak begitu bagus. Tapi ya saya nekat saja. Saya suka membaca. Saya suka cerita. Jadi saya ingin menulis. Sederhana saja.

Ketika memulai tulisan ini saya jadi mengingat-ingat bahwa semua cita-cita saya diawali dari yang saya suka: komikus, musisi, dosen matematika, penulis. Tidak ada paksaan dari orang tua bahwa saya harus menjadi orang lain. Dan sekarang saya sudah berada di fase di mana saya harus bangun. Saya tidak bisa terus bermimpi. Kini sudah saatnya saya melihat realita dari sudut pandang mimpi saya. Meskipun dihantam berbagai kehidupan pekerjaan, saya tetap berusaha agar api cita-cita itu tidak padam. Dan juga untuk kalian para pemimpi, ayo sama-sama kita bangun.

Resep

Selain membaca buku komik dan cerita lainnya, bermain Play Station, dan bermain gitar, saya mempunyai hobi lain semasa kecil: membaca buku resep masakan. Dulu sekali, ketika saya masih kira-kira duduk di sekolah dasar, ada buku resep berbahasa Inggris yang berjajar di rak buku milik ibu saya. Buku itu berdampingan dengan buku akademis dan juga ensiklopedia lainnya. Cover-nya yang berwarna oranye pastel membuat saya selalu tergiur untuk membukanya. Padahal dulu saya tidak mengerti masakan sama sekali, apalagi membaca resepnya, bahasa Inggris pula. Saya sering bertanya kepada ibu saya apa artinya ini, apa artinya itu. Ini bahan apa namanya atau ini disebut apa. Dan saya sering meminta ibu saya untuk membuat salah satu masakan di resep itu. Tidak pernah kesampaian. Mungkin karena masakannya cenderung sulit dan bahannya sulit didapatkan.

Barangkali, melihat kebiasaan saya itu ketertarikan saya terhadap dunia masak memasak sudah ada sejak kecil. Di samping suka membaca buku resep, saya selalu ingin terlibat setiap kali ibu saya membuat kue atau memasak. Rasanya  menyenangkan. Mengolah bahan-bahan hingga akhirnya menjadi suatu sajian yang layak santap.

Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Tiap kali ada kesempatan, saya berusaha untuk belajar memasak. Ada yang berhasil. Meskipun seringkali rasanya tidak karuan. Masakan yang paling saya suka ketika membuatnya adalah kue pai apel dan nanas. Resep kue itu diturunkan dari kakek saya, ibu saya, hingga ke saya. Katanya, kakek dari ibu saya paling senang makan kue itu. Sama seperti almarhum kakek saya, saya pun paling suka menyantap kue pai itu. Bahannya sederhana. Kulitnya terdiri dari tepung terigu, gula halus, vanili, mentega, dan air. Semua bahan hanya perlu diaduk hingga menjadi adonan. Lalu isiannya pun mudah saja. Ada berbagai variasi. Bisa berisi nanas yang dibuat selai ditambah dengan potongan apel segar yang telah direndam air lemon atau selai nanas yang ditambah dengan apple mousse. Lalu setelah itu, dipanggang. Itu adalah kue ternikmat yang pernah saya cicipi.

Sekarang, setelah selesai memasak makaroni dengan daging asap dan brokoli, saya jadi teringat kembali buku resep masakan dengan cover oranye itu. Saya ingin bernostalgia dengan seluruh jenis masakannya. Mungkin kalau ada kesempatan, saya ingin mencoba salah satu resepnya. Tapi entah di mana buku itu sekarang. Sudah lama saya tidak pernah melihatnya lagi. Mungkin sudah dibuang. Mungkin sudah jatuh ke tangan seorang chef kelas dunia atau ibu rumah tangga. Yang penting, semoga bermanfaat ya di luar sana.

John Mayer

Tepat tanggal 14 April kemarin, John Mayer merilis album resminya yang ke-7. Album tersebut dirilis secara lengkap dalam bentuk kepingan CD setelah sebelumnya ia sempat meluncurkan beberapa lagunya dalam dua gelombang. Salah satu lagu yang sedang sering saya putar sekarang adalah Rosie. Lagu itu terdengar manis dan bersahabat ditelinga saya. Nada yang dipilih dan disalurkan pada gitar di lagu itu sangat kusukai. Ada campuran dari album Heavier Things yang saya temukan dalam lagu ini. Dan saya menyukai itu. John memang jenius. Pernah ia berkata bahwa ia memiliki kamus musik di dalam otaknya. Dan nampaknya benar saja. Perkataanya, menurut saya, terbukti dari lagu-lagu yang ia hasilkan.

Bila diingat-ingat lagi, saya baru mengenal musik seorang John Mayer saat kelas 2 SMA. Seorang kawan yang juga pernah satu band dengan saya, Arbi, memperkenalkan saya pada permainan gitar John. Saya yang waktu itu masih memainkan instrumen bass terpana dengan permainan gitarnya. Rasanya saya langsung jatuh cinta dan ingin belajar gitar lagi dengan sungguh-sungguh. Dengan koneksi internet yang cukup kencang kala itu, saya langsung saja mencari lagu-lagu John, menontonnya di YouTube, dan mempelajarinya. Mendengarnya bermain, terutama saat melihat dia bermain, memberikan sesuatu yang baru. Perpaduan antara blues yang kolot dan pop yang segar. Itu pun salah satu hal yang saya suka darinya. Ia mampu memadupadankan hal yang lumrah menjadi hal yang unik.

Saya masih mengikuti perkembangan musik John hingga saat ini. Bahkan ketika banyak orang kurang menyukai album Born and Raised dan Paradise Valey yang katanya berbau terlalu country, saya masih tetap menyukainya. Ia juga tidak memaksakan diri ketika karirnya tidak “secemerlang” dulu lagi. Katanya, semua ada fasenya. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk mencapai titik tertinggi yang pernah kita capai. Biarkan saja mengalir dan kerjakan apa yang kita suka. Kira-kira begitu poin yang saya tangkap dari wawancaranya yang juga saya tonton di YouTube.

Pencapaian karir John tentu saja tidak mudah. Dia sampai harus bekerja di stasiun pengisian bahan bakar untuk bisa membeli gitar elektrik pertamanya, latihan berjam-jam sembari mengurung diri di kamar, juga hal gila lainnya. Bila dibilang berbakat sudah jelas ia berbakat. Tapi usahanya pun tak kalah besar dari bakatnya. Dan itu yang saya tidak punya.

Menurut seornag ahli di bidang gitar, Tim Pierce, John adalah panutan banyak gitaris kontemporer. Saya rasa itu memang benar. Melihat dari diri saya sendiri yang gaya bermainnya terpengaruh sekali oleh John, dan dari banyaknya orang yang membuat video cover, tutorial, dan lain sebagainya, hal itu perlu diamini.

Sampai saat ini saya masih bergabung di sebuah band yang saya bangun sejak SMA. Perjalanannya tidak mudah. Banyak rintangan yang berat dan sukar dilewati. Entah kapan saya bisa sehebat dan sesukse John. Barangkali tidak mungkin. Lagu dan filem saja saya masih membajak. Latihan juga seadanya. Tapi saya selalu teringat sebuah kutipan yang ia tulis di buku sekolahnya, Bunyinya kira-kira begini: “I know that school never did anything to me. It never made sense to me. I knew when I was 13 what I wanted to do. To be a musician”. Hanya saja sekolah berdampak pada saya meskipun kadang-kadang dengan cara yang tidak masuk akal. Hahaha. Dan menjadi musisi sudah menjadi impian saya sejak kecil. Yah, tidak ada salahnya bermpimpi, kan?

Sup Tomat

Penari salsa itu sedang larut dalam ibadahnya. Orang-orang memperhatikan. Para pelayan sibuk berlalu lalang. Kita berada di meja makan saling memandang. “Jangan biarkan sup itu dingin,” aku ingat itu yang kubilang. “Cicipi panasnya. Mungkin lidahmu akan terbakar, tapi biarkan saja. Lebih baik begitu. Mungkin kau akan terluka. Tapi biar saja. Aku ingin melihatmu mencicipinya. Ada segelas air putih dingin di sebelah kananmu. Basuh kemudian lidahmu dengan itu.” Lalu kau pun mencicipi sup itu. Dan lidahmu terbakar. Tapi kau tersenyum. Karena sup tomat itu memberimu kebahagiaan. Yang kutahu, itu kesukaanmu. Maka dari itu kubawa kau ke sini. Kubawa kau melihat bola lampu di sudut itu, mencium aroma espresso yang disediakan di meja sebelah, mengindahkan penari salsa itu, duduk di kursi kayu berhadapan denganku di sebelah kolam ikan yang selagi kau melamun, kau memperhatikan ikan itu. Dan yang paling penting, kau mencicipi sup tomat buatanku. Kau habiskan dengan lahap. Meninggalkan senyum di bibirmu. Pengganti sendawa seolah itu tanda kau menikmatinya. Tak lama kau beranjak. Berterima kasih atas ajakanku. Kau berbalik. Punggungmu terlihat menawan dengan gaun warna merah. Seperti sup tomat yang baru saja kau habiskan. Kau membara. Juga asam.

Hari ini, kubiarkan saja burung-burung terbang. Mungkin mereka sedang ingin mencari makan. Tapi esok jangan tak akan kubiarkan kerlip di balik selimut malam itu hilang. Lagi.

Mendengarkan Blues

Aku hanya ingin mendengarkan blues malam ini
Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit lampu kamar yang masuk

dari atap bobrok yang sudah sedikit tua

Ada yang ingin keluar dari dalam sini
Kemarin sudah kulahap jazz dan orkestra,

tapi awan terlanjur mendung sedari petang,

Aku hanya ingin blues malam ini!

tidak kah para seriosa itu mengerti?

nyanyian mereka hanya menggantung di bibir saja, tak bisa sampai ke ulu hati

 

Blues, malam ini!
apa yang tersirat tak lebih menyejukkan

dari apa yang sebenarnya diutarakan

Maka akan kuputar blues malam ini

 

Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit satu empat lima

kumainkan blues malam ini.

Aku blues malam ini

Ulang Tahun si Anak Sapi

 

Matahari sudah menarik selimutnya berjam-jam lalu, pertanda malam kini telah diawasi oleh bulan. Lampu taman pun padam seakan menghormati lembut dan agungnya cahaya purnama. Nafas manusia serasa terredam, di antara sapuan angin dan goyang dedaunan, menyisakan lolongan anjing yang terdengar lamat-lamat—belum akrab dengan diamnya malam yang berisik. Semua padam. Kecuali di sana. Di sudut lain. Di bawah jembatan yang menghubungkan antara harapan dan rasa putus asa, si Anak Sapi hendak menyalakan lilin yang hanya setinggi jari manis dengan sebatang korek api.

“Pukul 23.55”, gumamnya. Itulah yang tertera pada arloji yang ia pungut dari tempat sampah di dekat kompleks rumah-rumah gedongan. Setidaknya, walaupun bekas, arloji tersebut masih bisa menunjukkan waktu, meski terkadang harus diketuk beberapa kali agar bisa kembali bergerak.

Lima menit lagi. Sudah sejak senja ia menunggu. Tak pernah bosan. Yang ia tahu sekarang hanyalah gembira setengah penasaran. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Duduk, berbaring, berdiri, duduk lagi. Mungkin gelisah, tapi berdebar. Senang. Gelisah, tapi senang. Matanya berbinar seperti seorang bayi yang baru pertama kali melihat ibunya. Ia berharap bahwa semuanya menjadi mungkin. Setidaknya sekali ini saja. Belum pernah ia melakukan hal semacam ini. Ia ingin segera bisa berubah menjadi gadis yang beruntung. Gadis yang tidak lagi bau sampah. Seorang gadis, yang jika ada pria yang meliriknya, akan melempar senyum, bukannya gelas plastik bekas air mineral. Terlebih, ia ingin api di lilin kecil itu menemaninya, sekali ini saja.

Menjadi anak sapi bukan perkara mudah. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati sang ibu saat selesai melahirkan. Orang bilang ibunya tidak tertolong karena kehabisan banyak darah, karena apa daya, dukun beranak tidak punya hak menimbun darah. Satu-satunya hal yang bisa diandalkan adalah pertolongan dari yang maha. Entah itu maha nyata atau maha ajaib. Sayang, pertolongan datang dari keajaiban yang hanya mampir sebentar untuk menyelamatkan si anak, namun tidak si ibu. Sang ayah, tak perlu ditanya. Mungkin ia sudah minggat saat kehadiran si Anak Sapi dibisikkan ke telinganya.

Ia diasuh oleh paman dan bibinya, sepasang pengumpul plastik bekas. Karena bibinya tidak mampu menyusuinya, maka ia hanya diberi susu murah yang dibelinya dari warung dekat rumah. Ketika tinggi si Anak Sapi sudah mencapai gagang pintu, bibinya meninggal akibat demam berdarah. Meninggalkan ia seorang diri, karena setelah itu pamannya kabur entah ke mana.

Sejak ditinggal kedua pengasuhnya, si Anak Sapi bertahan hidup mengandalkan satu-satunya kemampuan yang diwarisi oleh paman dan bibinya: Mengumpulkan gelas plastik bekas. Ia tidak pernah mencicipi bangku sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Baca tulis pun tak pernah diajarkan oleh keduanya. Hanya memulung. “Yang penting dapet uang”, bibinya pernah bilang. Katanya, buat apa pintar tapi hidup sekarat. “Ujung-ujungnya kamu malah ngabisin uang. Uang abis, ya gabisa makan. Gabisa makan ya mati”, pamannya pun terkadang menambahkan. Padahal, ingin sekali ia bisa merasakan bisa duduk di bangku kayu, yang mejanya juga dari kayu yang penuh dengan coretan pensil di setiap ujungnya sambil mendengarkan bu guru menjelaskan tentang pelajaran berhitung.

Tapi ada yang lebih ia inginkan dari hanya duduk mendengarkan dan diceramahi oleh guru. Saat ia sedang mengumpulkan plastik bekas dekat sebuah kantin, ia melihat seorang anak perempuan sedang memegang sepotong kue, juga lilin cantik di tangan kirinya, dikerumuni oleh teman-temannya. “Selamat ulang tahun!” itulah yang ia dengar dari gerombolan anak SD tersebut. Tak lama, datang ibu si anak yang berulang tahun, memeluk dan menciumnya. Lalu mereka semua makan bersama. Dada si Anak Sapi seakan bergetar melihat adegan itu. Ada semburat hangat yang mengalir dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Perasaan yang aneh sekaligus dirindukannya.

Si Anak Sapi hanya bisa memainkan apa yang ia lihat tadi di otaknya berulang-ulang. Ia tidak pernah merasakan yang namanya ulang tahun. Paman dan bibinya tidak pernah mengadakan syukuran atas kelahirannya. Yang ia tahu mengenai ulang hanyalah pulung dan yang ia ketahui tentang tahun hanyalah tahun monyet, tanggal delapan, jumat kliwon. Tahun saat ia lahir, yang ia ketahui dari nisan bertuliskan nama ibunya.

Suatu saat, ia sedang mondar-mandir mencari botol dan gelas plastik bekas. Usahanya kala itu lebih keras dari biasanya. Pasalnya, sudah tiga hari dia puasa. Bukan karena ia rajin beribadah atau sedang membayar hutang, tapi ia tidak bisa menemukan apapun untuk dikais. Tidak ada plastik berarti tidak ada yang bisa ditukar ke pengepul. Tidak ada yang bisa ditukar ke pengepul, berarti tidak ada uang yang didapat. Tidak ada uang, berarti tidak ada makan. Tidak makan, berarti dia makan angin, lagi. Paman dan bibinya benar lagi. Hingga malam menjelang si Anak Sapi tidak menemukan apapun.

Tak terasa senja sudah tiba. Lelah mencari, akhirnya, ia pun terpaksa kembali ke satu-satunya kamar yang ia punya, kolong jembatan yang sudah bertahun-tahun ia tinggali. Rumah paman dan bibinya sudah diambil pemerintah sejak lama. Katanya, mau dibangun sesuatu untuk kepentingan negara. Entahlah. Di perjalanan pulang ia mampir sebentar ke sebuah masjid untuk sekadar mencuci muka. Di halaman masjid, di bawah pohon rindang, ia melihat ada seorang kakek tua sedang duduk bersandar ke batangnya dengan tongkat kayu yang menopang kedua tangannya. Wajahnya terlihat lelah, seakan semua beban kehidupan terlukiskan di atasnya dan seolah-olah mengisyaratkan pengalaman yang matang. Meski demikian, si kakek terlihat rapih. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kaki hingga kepala. Peci, gamis, juga sendal jepit. Tiba-tiba, dengan langkah yang cukup cepat, si Anak Sapi menghampiri si kakek. Bukan karena iba melihat si kakek yang terlihat kelelahan, tetapi ada dua gelas plastik dekat tempat si kakek duduk.

Tangan si kakek tiba-tiba menggenggam lengan si Anak Sapi. Kulitnya yang keriput terasa benar bersentuhan dengan kulitnya. Dengan mata redup penuh tanda tanya, si kakek menatap si Anak Sapi, seolah ingin berkata “jangan ganggu aku tidur!” Dengan tangan yang satunya, si kakek merogoh ke dekat kakinya lalu mengambil sesuatu. Si Anak Sapi hanya bisa terdiam tak bereaksi. Bukan karena ketakutan. Lebih karena heran.

“Tidak usah repot-repot, dik. Ini, ambil.” Si kakek memberikan dua gelas plastik yang diambil dari dekat tempat ia duduk dan memberikannya kepada si Anak Sapi, seolah bisa membaca raut wajahnya. Riang, ia pun mengambil gelas-gelas plastik itu dengan senyum tanda terima kasih. Bersiap untuk pergi, ia melihat sebuah buku di pangkuan si kakek. Buku tipis berwarna hitam dengan gambar seorang pria mengenakan blangkon.

“Itu buku apa, kek?” Si Anak Sapi bertanya.

“Ini buku perihal tahun dan tanggal lahir, dik. Buku peruntungan hidup.”

Si Anak Sapi pernah melihat buku itu sebelumnya. Kalau tidak salah di kolong kasur tempat pamannya menyembunyikan barang-barang, termasuk uang simpanan dari istrinya.

“Jika kau mau, ambil saja. Kakek punya salinannya.”

Si Anak Sapi hanya diam tak menanggapi. Mulutnya terkunci, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Bukti pergelutan antara kemauan dan keawaman.

“Kenapa, kau tidak bisa baca?” si kakek bertanya, “kalau begitu biar aku bacakan saja.”

Seperti seorang bujangan yang baru saja menang hadiah kuis di televisi, ia langsung duduk di depan si kakek. Menyilangkan keduanya, menaruh gembolannya dan memasang mata siaga. Suara si kakek agak parau, tidak begitu jelas sehingga ia harus mengondisikan telinganya lebih awas dan kepalanya agak sedikit membungkuk menghampiri mulut si kakek.

Si Anak Sapi telah tiba di kolong jembatannya yang aman dan nyaman. Ditemani orkestra nyamuk dan klakson-klakson mobil. Karung berisi dua buah gelas plastik belum sempat ia tukarkan ke pengepul. Ia terlalu bersemangat untuk itu, apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan si kakek dari buku “peruntungan” tadi. Katanya, besok, adalah hari peruntungan bagi orang yang lahir tanggal delapan hari jumat kliwon. Si Anak Sapi tidak akan melarat lagi. Setidaknya itu yang dikatakan buku tipis hitam itu yang disampaikan oleh si kakek. Ketika usianya menginjak 17, semua masalahnya akan terhapuskan. “Uang akan mengalir dan jodoh akan segera datang” ucap si kakek. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi si Anak Sapi selain mendengar apa yang diucapkan si kakek. Peruntungannya memang membuat dia cukup senang. Tapi, kesempatan untuk merayakan ulang tahunnya yang pertamalah yang membuat ia kegirangan. Apalagi si kakek membekalinya dengan satu buah kue lumpur. Tambah senanglah ia. Si kakek sudah menghitung bahwa besok adalah harinya, setelah si Anak Sapi memberi tahukan soal tahun kelahirnya.

Sebatang korek melintas di sisi kardus kasar berwarna coklat, gesekannya menghasilkan api merah sedikit oranye yang menyala-nyala. Tangan si Anak Sapi menjaga agar angin kencang tidak menghabisi nyawa si api, sebelum bisa menyentuh lilin putih yang ia pungut di jalanan. Pukul 00.00, lilin terang menyala, kue lumpur siap tersaji. Doa terpanjat dalam hati sebelum akhirnya ia meniup api di atas lilin, lalu melahap setengah bagian kue lumpur, lalu berkata:

“Selamat ulang tahun.”

Di kolong jembatan, dua orang polisi sedang berdiskusi satu sama lain. Sebelumnya, seorang pria pemulung melaporkan ada seorang gadis meninggal ke kantor polisi, dengan buih mengalir di sisi mulutnya. Kabarnya, tim forensic mengatakan bahwa si gadis keracunan makanan, karena ditemukan tengah memegang kue lumpur yang sudah tergigit setengah.

Setelah mayat selesai diurus, si polisi yang satu melangkah pulang, dan polisi yang lain kembali ke mobil untuk menyeruput kembali kopinya yang mulai dingin sambil membaca koran. Di bagian belakang, diumumkan bahwa seorang kakek kabur dari rumah sakit jiwa. Terakhir kali terlihat di daerah masjid dekat taman kota. Mengenakan pakaian serba putih dan membawa kantung plastik berisi satu buah kue lumpur dan buku tipis berwarna hitam.

 

-Galib Senandika