Mendengarkan Blues

Aku hanya ingin mendengarkan blues malam ini
Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit lampu kamar yang masuk

dari atap bobrok yang sudah sedikit tua

Ada yang ingin keluar dari dalam sini
Kemarin sudah kulahap jazz dan orkestra,

tapi awan terlanjur mendung sedari petang,

Aku hanya ingin blues malam ini!

tidak kah para seriosa itu mengerti?

nyanyian mereka hanya menggantung di bibir saja, tak bisa sampai ke ulu hati

 

Blues, malam ini!
apa yang tersirat tak lebih menyejukkan

dari apa yang sebenarnya diutarakan

Maka akan kuputar blues malam ini

 

Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit satu empat lima

kumainkan blues malam ini.

Aku blues malam ini

Fragmen

Fragmen mengemban tugasnya sebagai alur dari keterbatasan dan kesadaran akan ciptaan. Ia mematikan kemapanan, namun mematangkan angan-angan. Seperti baris yang tidak selesai ini: Garis akhir yang terlalu dini untuk digurat.

Ulang Tahun si Anak Sapi

 

Matahari sudah menarik selimutnya berjam-jam lalu, pertanda malam kini telah diawasi oleh bulan. Lampu taman pun padam seakan menghormati lembut dan agungnya cahaya purnama. Nafas manusia serasa terredam, di antara sapuan angin dan goyang dedaunan, menyisakan lolongan anjing yang terdengar lamat-lamat—belum akrab dengan diamnya malam yang berisik. Semua padam. Kecuali di sana. Di sudut lain. Di bawah jembatan yang menghubungkan antara harapan dan rasa putus asa, si Anak Sapi hendak menyalakan lilin yang hanya setinggi jari manis dengan sebatang korek api.

“Pukul 23.55”, gumamnya. Itulah yang tertera pada arloji yang ia pungut dari tempat sampah di dekat kompleks rumah-rumah gedongan. Setidaknya, walaupun bekas, arloji tersebut masih bisa menunjukkan waktu, meski terkadang harus diketuk beberapa kali agar bisa kembali bergerak.

Lima menit lagi. Sudah sejak senja ia menunggu. Tak pernah bosan. Yang ia tahu sekarang hanyalah gembira setengah penasaran. Ia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya. Duduk, berbaring, berdiri, duduk lagi. Mungkin gelisah, tapi berdebar. Senang. Gelisah, tapi senang. Matanya berbinar seperti seorang bayi yang baru pertama kali melihat ibunya. Ia berharap bahwa semuanya menjadi mungkin. Setidaknya sekali ini saja. Belum pernah ia melakukan hal semacam ini. Ia ingin segera bisa berubah menjadi gadis yang beruntung. Gadis yang tidak lagi bau sampah. Seorang gadis, yang jika ada pria yang meliriknya, akan melempar senyum, bukannya gelas plastik bekas air mineral. Terlebih, ia ingin api di lilin kecil itu menemaninya, sekali ini saja.

Menjadi anak sapi bukan perkara mudah. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati sang ibu saat selesai melahirkan. Orang bilang ibunya tidak tertolong karena kehabisan banyak darah, karena apa daya, dukun beranak tidak punya hak menimbun darah. Satu-satunya hal yang bisa diandalkan adalah pertolongan dari yang maha. Entah itu maha nyata atau maha ajaib. Sayang, pertolongan datang dari keajaiban yang hanya mampir sebentar untuk menyelamatkan si anak, namun tidak si ibu. Sang ayah, tak perlu ditanya. Mungkin ia sudah minggat saat kehadiran si Anak Sapi dibisikkan ke telinganya.

Ia diasuh oleh paman dan bibinya, sepasang pengumpul plastik bekas. Karena bibinya tidak mampu menyusuinya, maka ia hanya diberi susu murah yang dibelinya dari warung dekat rumah. Ketika tinggi si Anak Sapi sudah mencapai gagang pintu, bibinya meninggal akibat demam berdarah. Meninggalkan ia seorang diri, karena setelah itu pamannya kabur entah ke mana.

Sejak ditinggal kedua pengasuhnya, si Anak Sapi bertahan hidup mengandalkan satu-satunya kemampuan yang diwarisi oleh paman dan bibinya: Mengumpulkan gelas plastik bekas. Ia tidak pernah mencicipi bangku sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Baca tulis pun tak pernah diajarkan oleh keduanya. Hanya memulung. “Yang penting dapet uang”, bibinya pernah bilang. Katanya, buat apa pintar tapi hidup sekarat. “Ujung-ujungnya kamu malah ngabisin uang. Uang abis, ya gabisa makan. Gabisa makan ya mati”, pamannya pun terkadang menambahkan. Padahal, ingin sekali ia bisa merasakan bisa duduk di bangku kayu, yang mejanya juga dari kayu yang penuh dengan coretan pensil di setiap ujungnya sambil mendengarkan bu guru menjelaskan tentang pelajaran berhitung.

Tapi ada yang lebih ia inginkan dari hanya duduk mendengarkan dan diceramahi oleh guru. Saat ia sedang mengumpulkan plastik bekas dekat sebuah kantin, ia melihat seorang anak perempuan sedang memegang sepotong kue, juga lilin cantik di tangan kirinya, dikerumuni oleh teman-temannya. “Selamat ulang tahun!” itulah yang ia dengar dari gerombolan anak SD tersebut. Tak lama, datang ibu si anak yang berulang tahun, memeluk dan menciumnya. Lalu mereka semua makan bersama. Dada si Anak Sapi seakan bergetar melihat adegan itu. Ada semburat hangat yang mengalir dari ubun-ubun hingga ujung kakinya. Perasaan yang aneh sekaligus dirindukannya.

Si Anak Sapi hanya bisa memainkan apa yang ia lihat tadi di otaknya berulang-ulang. Ia tidak pernah merasakan yang namanya ulang tahun. Paman dan bibinya tidak pernah mengadakan syukuran atas kelahirannya. Yang ia tahu mengenai ulang hanyalah pulung dan yang ia ketahui tentang tahun hanyalah tahun monyet, tanggal delapan, jumat kliwon. Tahun saat ia lahir, yang ia ketahui dari nisan bertuliskan nama ibunya.

Suatu saat, ia sedang mondar-mandir mencari botol dan gelas plastik bekas. Usahanya kala itu lebih keras dari biasanya. Pasalnya, sudah tiga hari dia puasa. Bukan karena ia rajin beribadah atau sedang membayar hutang, tapi ia tidak bisa menemukan apapun untuk dikais. Tidak ada plastik berarti tidak ada yang bisa ditukar ke pengepul. Tidak ada yang bisa ditukar ke pengepul, berarti tidak ada uang yang didapat. Tidak ada uang, berarti tidak ada makan. Tidak makan, berarti dia makan angin, lagi. Paman dan bibinya benar lagi. Hingga malam menjelang si Anak Sapi tidak menemukan apapun.

Tak terasa senja sudah tiba. Lelah mencari, akhirnya, ia pun terpaksa kembali ke satu-satunya kamar yang ia punya, kolong jembatan yang sudah bertahun-tahun ia tinggali. Rumah paman dan bibinya sudah diambil pemerintah sejak lama. Katanya, mau dibangun sesuatu untuk kepentingan negara. Entahlah. Di perjalanan pulang ia mampir sebentar ke sebuah masjid untuk sekadar mencuci muka. Di halaman masjid, di bawah pohon rindang, ia melihat ada seorang kakek tua sedang duduk bersandar ke batangnya dengan tongkat kayu yang menopang kedua tangannya. Wajahnya terlihat lelah, seakan semua beban kehidupan terlukiskan di atasnya dan seolah-olah mengisyaratkan pengalaman yang matang. Meski demikian, si kakek terlihat rapih. Ia mengenakan pakaian serba putih dari ujung kaki hingga kepala. Peci, gamis, juga sendal jepit. Tiba-tiba, dengan langkah yang cukup cepat, si Anak Sapi menghampiri si kakek. Bukan karena iba melihat si kakek yang terlihat kelelahan, tetapi ada dua gelas plastik dekat tempat si kakek duduk.

Tangan si kakek tiba-tiba menggenggam lengan si Anak Sapi. Kulitnya yang keriput terasa benar bersentuhan dengan kulitnya. Dengan mata redup penuh tanda tanya, si kakek menatap si Anak Sapi, seolah ingin berkata “jangan ganggu aku tidur!” Dengan tangan yang satunya, si kakek merogoh ke dekat kakinya lalu mengambil sesuatu. Si Anak Sapi hanya bisa terdiam tak bereaksi. Bukan karena ketakutan. Lebih karena heran.

“Tidak usah repot-repot, dik. Ini, ambil.” Si kakek memberikan dua gelas plastik yang diambil dari dekat tempat ia duduk dan memberikannya kepada si Anak Sapi, seolah bisa membaca raut wajahnya. Riang, ia pun mengambil gelas-gelas plastik itu dengan senyum tanda terima kasih. Bersiap untuk pergi, ia melihat sebuah buku di pangkuan si kakek. Buku tipis berwarna hitam dengan gambar seorang pria mengenakan blangkon.

“Itu buku apa, kek?” Si Anak Sapi bertanya.

“Ini buku perihal tahun dan tanggal lahir, dik. Buku peruntungan hidup.”

Si Anak Sapi pernah melihat buku itu sebelumnya. Kalau tidak salah di kolong kasur tempat pamannya menyembunyikan barang-barang, termasuk uang simpanan dari istrinya.

“Jika kau mau, ambil saja. Kakek punya salinannya.”

Si Anak Sapi hanya diam tak menanggapi. Mulutnya terkunci, tapi matanya penuh rasa ingin tahu. Bukti pergelutan antara kemauan dan keawaman.

“Kenapa, kau tidak bisa baca?” si kakek bertanya, “kalau begitu biar aku bacakan saja.”

Seperti seorang bujangan yang baru saja menang hadiah kuis di televisi, ia langsung duduk di depan si kakek. Menyilangkan keduanya, menaruh gembolannya dan memasang mata siaga. Suara si kakek agak parau, tidak begitu jelas sehingga ia harus mengondisikan telinganya lebih awas dan kepalanya agak sedikit membungkuk menghampiri mulut si kakek.

Si Anak Sapi telah tiba di kolong jembatannya yang aman dan nyaman. Ditemani orkestra nyamuk dan klakson-klakson mobil. Karung berisi dua buah gelas plastik belum sempat ia tukarkan ke pengepul. Ia terlalu bersemangat untuk itu, apalagi setelah mendengar apa yang dikatakan si kakek dari buku “peruntungan” tadi. Katanya, besok, adalah hari peruntungan bagi orang yang lahir tanggal delapan hari jumat kliwon. Si Anak Sapi tidak akan melarat lagi. Setidaknya itu yang dikatakan buku tipis hitam itu yang disampaikan oleh si kakek. Ketika usianya menginjak 17, semua masalahnya akan terhapuskan. “Uang akan mengalir dan jodoh akan segera datang” ucap si kakek. Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi si Anak Sapi selain mendengar apa yang diucapkan si kakek. Peruntungannya memang membuat dia cukup senang. Tapi, kesempatan untuk merayakan ulang tahunnya yang pertamalah yang membuat ia kegirangan. Apalagi si kakek membekalinya dengan satu buah kue lumpur. Tambah senanglah ia. Si kakek sudah menghitung bahwa besok adalah harinya, setelah si Anak Sapi memberi tahukan soal tahun kelahirnya.

Sebatang korek melintas di sisi kardus kasar berwarna coklat, gesekannya menghasilkan api merah sedikit oranye yang menyala-nyala. Tangan si Anak Sapi menjaga agar angin kencang tidak menghabisi nyawa si api, sebelum bisa menyentuh lilin putih yang ia pungut di jalanan. Pukul 00.00, lilin terang menyala, kue lumpur siap tersaji. Doa terpanjat dalam hati sebelum akhirnya ia meniup api di atas lilin, lalu melahap setengah bagian kue lumpur, lalu berkata:

“Selamat ulang tahun.”

Di kolong jembatan, dua orang polisi sedang berdiskusi satu sama lain. Sebelumnya, seorang pria pemulung melaporkan ada seorang gadis meninggal ke kantor polisi, dengan buih mengalir di sisi mulutnya. Kabarnya, tim forensic mengatakan bahwa si gadis keracunan makanan, karena ditemukan tengah memegang kue lumpur yang sudah tergigit setengah.

Setelah mayat selesai diurus, si polisi yang satu melangkah pulang, dan polisi yang lain kembali ke mobil untuk menyeruput kembali kopinya yang mulai dingin sambil membaca koran. Di bagian belakang, diumumkan bahwa seorang kakek kabur dari rumah sakit jiwa. Terakhir kali terlihat di daerah masjid dekat taman kota. Mengenakan pakaian serba putih dan membawa kantung plastik berisi satu buah kue lumpur dan buku tipis berwarna hitam.

 

-Galib Senandika

 

Setiap Aku adalah Hak Segala Engkau

Setiap aku adalah hak segala Engkau,

yang kau ambil dari hak segala aku

Setiap hadir adalah hak segala pergi,

yang menjadi tanya dalam hak segala hadir

 

tetapi waktu

memaksaku menabur abu-mu terlebih dulu

di atas batu. Kurayu Tuhan,

Kucumbu takdir

 

kering mata ini, basah tanah itu

Perih

kalam menghardik

sepi pun berisik

 

Kuraba alam antara

nalar dan emosi

sesalku tak sempat,

Memelukmu erat-erat

 

-Galib Senandika

Balada Solilokui

Mengapa semuanya diam?

Apa ada yang salah denganku, tuan?

 

Kau, yang berbaju kuning, mengapa kau diam?

Tenggorokanmu nampak kering tak keruan;

lidahmu kelu, beku, semu: ada yang sedang sembunyi di balik pohon beringin

 

Kau, yang berbaju merah, kenapa kau juga diam?

Moncongmu saja lebar, tapi suara kau sembunyikan

semut pun masih lebih pandai bernyanyi daripada engkau!

 

Hey, kau! Ya, kau, yang pakai baju biru, mengapa kau juga diam?

Berkata-kata saja kau bisa; bilang bahwa tulangmu putih, darahmu merah,

tapi kau malah dikuasai segitiga-segitiga itu! Biru pula

 

Ah, kalian penuh warna-warni!

Tubuh penuh corak pelangi yang menggelikan;

kalian layaknya badut

 

Aku tertawa terbahak-bahak

Tidakkah kalian dengar gelakakku?

Kalian sungguh lucu

 

Hibur aku terus dari atas panggung ini, tuan-tuan

karena kalian itu lucu

tidak, lebih lucu dari badut paling ahli sekalipun

 

 

Tapi, tapi, itu kata mereka

yang melihat dari wajah penuh bedak-mu

dan hidung merah-tomat-mu

 

Ngeri! Negri, ini, ngeri!

Memang apa salahnya dengan putih?

Bukankah itu lambing suci?

 

Tak lama aku sadar, kalian tidak lebih lucu dari badut

Keji! Kalian semua keji!

Kamilah badutnya!

 

Kalian adalah pemilik sirkus!

Yang tertawa dibalik topeng kami:

Ada resah yang menggantung di sudut hati kami

 

Ya, ya, ya, tertawalah sepuasnya, tuan-tuan

Lihat penyair itu menghilang

Lihat buruh itu meluruh

Lihat keturunan itu merana

 

Aku yakin, hanya ada gema tawamu yang terdengar

Samar-samar, karena sumpal itu tak juga bisa diangkat

Dari dalam dadamu, bukan di mulutmu, karena

seorang suci bilang: di sanalah perkara bermuara

 

Ampun, tuan-tuan, ampun

aku tidak miring ke kiri

juga tidak ke kanan

Aku hanya ingin seperti kata Tuhan: di tengah-tengah

 

Aku tidak punya banyak harta, tuan-tuan

aku hanya ada pena, juga kertas, juga kata-kata

jangan kalian ambil satu-satunya hak

yang dipegang senua rakyat

 

Ampun, tuan-tuan, ampun

hanya Tuhan yang boleh hukum aku, hukum kau juga

dan nanti kalau kita sudah sama-sama dihukum,

aku ingin tanya: “apa kalian masih tetap bisu?”

 

Galib Senandika