Resep

Selain membaca buku komik dan cerita lainnya, bermain Play Station, dan bermain gitar, saya mempunyai hobi lain semasa kecil: membaca buku resep masakan. Dulu sekali, ketika saya masih kira-kira duduk di sekolah dasar, ada buku resep berbahasa Inggris yang berjajar di rak buku milik ibu saya. Buku itu berdampingan dengan buku akademis dan juga ensiklopedia lainnya. Cover-nya yang berwarna oranye pastel membuat saya selalu tergiur untuk membukanya. Padahal dulu saya tidak mengerti masakan sama sekali, apalagi membaca resepnya, bahasa Inggris pula. Saya sering bertanya kepada ibu saya apa artinya ini, apa artinya itu. Ini bahan apa namanya atau ini disebut apa. Dan saya sering meminta ibu saya untuk membuat salah satu masakan di resep itu. Tidak pernah kesampaian. Mungkin karena masakannya cenderung sulit dan bahannya sulit didapatkan.

Barangkali, melihat kebiasaan saya itu ketertarikan saya terhadap dunia masak memasak sudah ada sejak kecil. Di samping suka membaca buku resep, saya selalu ingin terlibat setiap kali ibu saya membuat kue atau memasak. Rasanya  menyenangkan. Mengolah bahan-bahan hingga akhirnya menjadi suatu sajian yang layak santap.

Kebiasaan itu berlanjut hingga sekarang. Tiap kali ada kesempatan, saya berusaha untuk belajar memasak. Ada yang berhasil. Meskipun seringkali rasanya tidak karuan. Masakan yang paling saya suka ketika membuatnya adalah kue pai apel dan nanas. Resep kue itu diturunkan dari kakek saya, ibu saya, hingga ke saya. Katanya, kakek dari ibu saya paling senang makan kue itu. Sama seperti almarhum kakek saya, saya pun paling suka menyantap kue pai itu. Bahannya sederhana. Kulitnya terdiri dari tepung terigu, gula halus, vanili, mentega, dan air. Semua bahan hanya perlu diaduk hingga menjadi adonan. Lalu isiannya pun mudah saja. Ada berbagai variasi. Bisa berisi nanas yang dibuat selai ditambah dengan potongan apel segar yang telah direndam air lemon atau selai nanas yang ditambah dengan apple mousse. Lalu setelah itu, dipanggang. Itu adalah kue ternikmat yang pernah saya cicipi.

Sekarang, setelah selesai memasak makaroni dengan daging asap dan brokoli, saya jadi teringat kembali buku resep masakan dengan cover oranye itu. Saya ingin bernostalgia dengan seluruh jenis masakannya. Mungkin kalau ada kesempatan, saya ingin mencoba salah satu resepnya. Tapi entah di mana buku itu sekarang. Sudah lama saya tidak pernah melihatnya lagi. Mungkin sudah dibuang. Mungkin sudah jatuh ke tangan seorang chef kelas dunia atau ibu rumah tangga. Yang penting, semoga bermanfaat ya di luar sana.

Advertisements

John Mayer

Tepat tanggal 14 April kemarin, John Mayer merilis album resminya yang ke-7. Album tersebut dirilis secara lengkap dalam bentuk kepingan CD setelah sebelumnya ia sempat meluncurkan beberapa lagunya dalam dua gelombang. Salah satu lagu yang sedang sering saya putar sekarang adalah Rosie. Lagu itu terdengar manis dan bersahabat ditelinga saya. Nada yang dipilih dan disalurkan pada gitar di lagu itu sangat kusukai. Ada campuran dari album Heavier Things yang saya temukan dalam lagu ini. Dan saya menyukai itu. John memang jenius. Pernah ia berkata bahwa ia memiliki kamus musik di dalam otaknya. Dan nampaknya benar saja. Perkataanya, menurut saya, terbukti dari lagu-lagu yang ia hasilkan.

Bila diingat-ingat lagi, saya baru mengenal musik seorang John Mayer saat kelas 2 SMA. Seorang kawan yang juga pernah satu band dengan saya, Arbi, memperkenalkan saya pada permainan gitar John. Saya yang waktu itu masih memainkan instrumen bass terpana dengan permainan gitarnya. Rasanya saya langsung jatuh cinta dan ingin belajar gitar lagi dengan sungguh-sungguh. Dengan koneksi internet yang cukup kencang kala itu, saya langsung saja mencari lagu-lagu John, menontonnya di YouTube, dan mempelajarinya. Mendengarnya bermain, terutama saat melihat dia bermain, memberikan sesuatu yang baru. Perpaduan antara blues yang kolot dan pop yang segar. Itu pun salah satu hal yang saya suka darinya. Ia mampu memadupadankan hal yang lumrah menjadi hal yang unik.

Saya masih mengikuti perkembangan musik John hingga saat ini. Bahkan ketika banyak orang kurang menyukai album Born and Raised dan Paradise Valey yang katanya berbau terlalu country, saya masih tetap menyukainya. Ia juga tidak memaksakan diri ketika karirnya tidak “secemerlang” dulu lagi. Katanya, semua ada fasenya. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk mencapai titik tertinggi yang pernah kita capai. Biarkan saja mengalir dan kerjakan apa yang kita suka. Kira-kira begitu poin yang saya tangkap dari wawancaranya yang juga saya tonton di YouTube.

Pencapaian karir John tentu saja tidak mudah. Dia sampai harus bekerja di stasiun pengisian bahan bakar untuk bisa membeli gitar elektrik pertamanya, latihan berjam-jam sembari mengurung diri di kamar, juga hal gila lainnya. Bila dibilang berbakat sudah jelas ia berbakat. Tapi usahanya pun tak kalah besar dari bakatnya. Dan itu yang saya tidak punya.

Menurut seornag ahli di bidang gitar, Tim Pierce, John adalah panutan banyak gitaris kontemporer. Saya rasa itu memang benar. Melihat dari diri saya sendiri yang gaya bermainnya terpengaruh sekali oleh John, dan dari banyaknya orang yang membuat video cover, tutorial, dan lain sebagainya, hal itu perlu diamini.

Sampai saat ini saya masih bergabung di sebuah band yang saya bangun sejak SMA. Perjalanannya tidak mudah. Banyak rintangan yang berat dan sukar dilewati. Entah kapan saya bisa sehebat dan sesukse John. Barangkali tidak mungkin. Lagu dan filem saja saya masih membajak. Latihan juga seadanya. Tapi saya selalu teringat sebuah kutipan yang ia tulis di buku sekolahnya, Bunyinya kira-kira begini: “I know that school never did anything to me. It never made sense to me. I knew when I was 13 what I wanted to do. To be a musician”. Hanya saja sekolah berdampak pada saya meskipun kadang-kadang dengan cara yang tidak masuk akal. Hahaha. Dan menjadi musisi sudah menjadi impian saya sejak kecil. Yah, tidak ada salahnya bermpimpi, kan?

Sup Tomat

Penari salsa itu sedang larut dalam ibadahnya. Orang-orang memperhatikan. Para pelayan sibuk berlalu lalang. Kita berada di meja makan saling memandang. “Jangan biarkan sup itu dingin,” aku ingat itu yang kubilang. “Cicipi panasnya. Mungkin lidahmu akan terbakar, tapi biarkan saja. Lebih baik begitu. Mungkin kau akan terluka. Tapi biar saja. Aku ingin melihatmu mencicipinya. Ada segelas air putih dingin di sebelah kananmu. Basuh kemudian lidahmu dengan itu.” Lalu kau pun mencicipi sup itu. Dan lidahmu terbakar. Tapi kau tersenyum. Karena sup tomat itu memberimu kebahagiaan. Yang kutahu, itu kesukaanmu. Maka dari itu kubawa kau ke sini. Kubawa kau melihat bola lampu di sudut itu, mencium aroma espresso yang disediakan di meja sebelah, mengindahkan penari salsa itu, duduk di kursi kayu berhadapan denganku di sebelah kolam ikan yang selagi kau melamun, kau memperhatikan ikan itu. Dan yang paling penting, kau mencicipi sup tomat buatanku. Kau habiskan dengan lahap. Meninggalkan senyum di bibirmu. Pengganti sendawa seolah itu tanda kau menikmatinya. Tak lama kau beranjak. Berterima kasih atas ajakanku. Kau berbalik. Punggungmu terlihat menawan dengan gaun warna merah. Seperti sup tomat yang baru saja kau habiskan. Kau membara. Juga asam.

Hari ini, kubiarkan saja burung-burung terbang. Mungkin mereka sedang ingin mencari makan. Tapi esok jangan tak akan kubiarkan kerlip di balik selimut malam itu hilang. Lagi.

Mendengarkan Blues

Aku hanya ingin mendengarkan blues malam ini
Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit lampu kamar yang masuk

dari atap bobrok yang sudah sedikit tua

Ada yang ingin keluar dari dalam sini
Kemarin sudah kulahap jazz dan orkestra,

tapi awan terlanjur mendung sedari petang,

Aku hanya ingin blues malam ini!

tidak kah para seriosa itu mengerti?

nyanyian mereka hanya menggantung di bibir saja, tak bisa sampai ke ulu hati

 

Blues, malam ini!
apa yang tersirat tak lebih menyejukkan

dari apa yang sebenarnya diutarakan

Maka akan kuputar blues malam ini

 

Tidak esok, tidak lusa

dengan sedikit satu empat lima

kumainkan blues malam ini.

Aku blues malam ini

Setiap Aku adalah Hak Segala Engkau

Setiap aku adalah hak segala Engkau,

yang kau ambil dari hak segala aku

Setiap hadir adalah hak segala pergi,

yang menjadi tanya dalam hak segala hadir

 

tetapi waktu

memaksaku menabur abu-mu terlebih dulu

di atas batu. Kurayu Tuhan,

Kucumbu takdir

 

kering mata ini, basah tanah itu

Perih

kalam menghardik

sepi pun berisik

 

Kuraba alam antara

nalar dan emosi

sesalku tak sempat,

Memelukmu erat-erat

 

-Galib Senandika

Balada Solilokui

Mengapa semuanya diam?

Apa ada yang salah denganku, tuan?

 

Kau, yang berbaju kuning, mengapa kau diam?

Tenggorokanmu nampak kering tak keruan;

lidahmu kelu, beku, semu: ada yang sedang sembunyi di balik pohon beringin

 

Kau, yang berbaju merah, kenapa kau juga diam?

Moncongmu saja lebar, tapi suara kau sembunyikan

semut pun masih lebih pandai bernyanyi daripada engkau!

 

Hey, kau! Ya, kau, yang pakai baju biru, mengapa kau juga diam?

Berkata-kata saja kau bisa; bilang bahwa tulangmu putih, darahmu merah,

tapi kau malah dikuasai segitiga-segitiga itu! Biru pula

 

Ah, kalian penuh warna-warni!

Tubuh penuh corak pelangi yang menggelikan;

kalian layaknya badut

 

Aku tertawa terbahak-bahak

Tidakkah kalian dengar gelakakku?

Kalian sungguh lucu

 

Hibur aku terus dari atas panggung ini, tuan-tuan

karena kalian itu lucu

tidak, lebih lucu dari badut paling ahli sekalipun

 

 

Tapi, tapi, itu kata mereka

yang melihat dari wajah penuh bedak-mu

dan hidung merah-tomat-mu

 

Ngeri! Negri, ini, ngeri!

Memang apa salahnya dengan putih?

Bukankah itu lambing suci?

 

Tak lama aku sadar, kalian tidak lebih lucu dari badut

Keji! Kalian semua keji!

Kamilah badutnya!

 

Kalian adalah pemilik sirkus!

Yang tertawa dibalik topeng kami:

Ada resah yang menggantung di sudut hati kami

 

Ya, ya, ya, tertawalah sepuasnya, tuan-tuan

Lihat penyair itu menghilang

Lihat buruh itu meluruh

Lihat keturunan itu merana

 

Aku yakin, hanya ada gema tawamu yang terdengar

Samar-samar, karena sumpal itu tak juga bisa diangkat

Dari dalam dadamu, bukan di mulutmu, karena

seorang suci bilang: di sanalah perkara bermuara

 

Ampun, tuan-tuan, ampun

aku tidak miring ke kiri

juga tidak ke kanan

Aku hanya ingin seperti kata Tuhan: di tengah-tengah

 

Aku tidak punya banyak harta, tuan-tuan

aku hanya ada pena, juga kertas, juga kata-kata

jangan kalian ambil satu-satunya hak

yang dipegang senua rakyat

 

Ampun, tuan-tuan, ampun

hanya Tuhan yang boleh hukum aku, hukum kau juga

dan nanti kalau kita sudah sama-sama dihukum,

aku ingin tanya: “apa kalian masih tetap bisu?”

 

Galib Senandika